Pradik I yang berlangsung sehari sebelumnya (lihat disini) mengundang banyak antusiasme bagi peserta. Peserta dibekali pengetahuan mengenai pertolongan pertama dasar, evakuasi, dan pengetahuan organisasi KSR Undip serta kepalangmerahan. Materi-materi tersebutlah yang akan dijadikan bekal bagi peserta dalam pradik II.
Konsep acara yang disajikan dalam pradik II merupakan aplikasi dari materi yang telah diberikan dalam pradik I. Persi Laseria (Diklat 13) didaulat sebagai koordinator lapangan, Pradik II kali ini. Peserta diajak untuk melakukan simulasi sederhana yang mewakili masing-masing situasi. Situasi ini dibagi ke dalam beberapa pos yang tersebar di sepanjang lingkungan kampus Undip.
Adapun pembagian pos dalam pradik II meliputi : pendirian tenda pleton, evakuasi gorong-gorong, evakuasi di sungai, evakuasi di ketinggian, permainan, dan evakuasi naik-turun.
Peserta dibagi kedalam beberapa kelompok kecil yang terdiri dari 10-11 peserta, baik laki-laki maupun peremuan. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang pemimpin yang ditunjuk oleh anggota kelompok lainnya serta diwajibkan membuat yel-yel sebagai penyemangat.
Kelompok yang telah dibentuk untuk kemudian secara bergantian mendatangi pos-pos yang telah disiapkan oleh panitia. Bukan hal yang mudah bagi peserta untuk mencapai satu pos ke pos lainnya, mengingat sulitnya medan berupa perbukitan, sungai, serta jalan berlumpur akibat hujan.
Mendirikan tenda peleton
Di pos ini, peserta diajak untuk mendirikan tenda pleton secara berkelompok. Sebelumnya peserta diberi penjelasan mengenai peralatan serta bagaimana teknik yang benar dalam pendirian tenda. Pemandu dalam pos ini adalah Trisno Sudoro (D.9), Bintang Adi, dan Luluk Febri (D.12). Tujuan sebenarnya dari pos ini adalah agar calon anggota baru mengetahui bagaimana teknik mendirikan tenda pleton dalam situasi gawat darurat seperti bencana. Hal tersebut dianggap penting mengingat para peserta disiapkan untuk menjadi relawan yang handal dan berkompeten.
Peserta diberi pengarahan sebelum mendirikan tenda
peserta berfoto bersama setelah berhasil mendirikan tenda pleton
Masuk gorong-gorong
Peserta diminta melalukan pemindahan korban melalui gorong-gorong yang sempit dan gelap di pos ini. Peserta secara berpasangan dan bergantian menjadi penolong dan korban dalam melakukan evakuasi ini. Menurut peserta, pos inilah yang dianggap paling berkesan karena selain dituntut keterampilan dalam mengevakuasi korban, peserta juga dihadapkan pada medan yang tidak biasa. Medan dibuat sesempit mungkin dengan alas lumpur dan genangan air yang mencapai mata kaki. Komandan Dhoni, Mayang, dan Nisya (D.13) dengan setia memandu calon anggota baru mengatasi rintangan ini.
Menyeberang sungai, naiki tali
memindahkan korban dari satu sisi sungai ke sisi sungai lainnya dengan menggunakan tandu menjadi prioritas di pos berikutnya. Baik korban, penolong maupun surveyor berasal dari peserta sendiri. Dalam pos ini peserta dituntut untuk menunjukkan ketrampilan, kecakapan juga kesiapsiagaan dalam melakukan evakuasi korban dengan melintasi sungai. Rekan Imam Heri (D.12) Fitri Diah, dan M. Aziz (D.13) turut memandu dan mengawasi calon anggota baru melewati tantangan ini.
Lepas tantangan yang berbasah-basah ria, calon anggota baru lalu diminta menguji nyali dengan ketinggian. Pos rapling mengajarkan bagaimana mengevakuasi korban pada ketinggian tertentu dengan menerapkan prinsip keamanan baik korban maupun penolong. Peserta dihadapkan pada medan dengan ketinggian. Bertempat di lantai 3 kampus FKM, peserta diakrabkan dengan alat-alat pertolongan pada ketinggian. Muh Firman (D.12) bertanggungjawab mengawasi tantangan ini bersama Mela Maini (D.11), Wiwied Dwi (D.12), Findi Purbonani, dan Bella (D.13).
salah satu peserta sedang melakukan rapling
Bermain dan belajar
Kehadiran pos permainan menjadi favorit calon anggota baru. Pos permainan ini menuntut kerjasama serta kekompakkan dari seluruh anggota kelompok. Permainan yang disajikan dalam pos ini adalah lomba bakiak yang dimainkan dengan mata tertutup.
Setiap kelompok dibagi lagi menjadi dua bagian sama banyak, kemudian setiap anggota wajib ditutup matanya menggunakan kain kecuali satu orang yang beada paling belakang. Orang yang tidak ditutup matanyalah yang kemudian memberi aba-aba pada setiap anggota kelompoknya yang lain hingga mencapai finish.
Kelompok yang kalah untuk kemudian menerima hukuman dari kelompok lainnya yang menang dengan diolesi mukanya menggunakan mentega. Nur Izza dan Catur Indra (D.13) memastikan calon anggota baru 'bermain' dengan gembira.
peserta terlihat asyik pada pos perminan
kelompok yang kalah mendapat hukuman
Evakuasi naik-turun
Terakhir, calon anggota baru dikenalkan bagaimana memindahkan korban dalam medan tanjakan atau turunan. Teknik mengangkat korban dengan benar, bagaimana membuat korban nyaman saat ditandu, bagaimana posisi korban saat diangkat dan bagaimana tugas seorang surveyor semestinya disampaikan Mitoriana, Johan Richie, Wahyuni Arumsari, dan Viadiaz (D.13) dengan baik. Peserta juga diminta mempraktekkan materi yang telah diberikan.
evaluasi peserta setelah melakukan simulasi
